Ulos, Wastra dari Tanah Batak yang Menembus Panggung Dunia

oleh:

Admin Marabit

Setiap 17 Oktober, bangsa Indonesia memperingati Hari Ulos Nasional, penanda penting bagi salah satu wastra kebanggaan Nusantara. Pada 17 Oktober 2014, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menetapkan ulos sebagai warisan budaya tak benda Indonesia, dan tanggal itu menjadi rujukan peringatan tahunan. Sebagian pihak mengingatkan agar peringatan ini tidak berhenti pada seremoni. Ulos perlu dilihat sebagai warisan adat sekaligus penggerak potensi ekonomi kreatif nasional. Tahun ini peringatannya terasa lebih luas, karena sejak 2025 tanggal 17 Oktober juga ditetapkan Kementerian Kebudayaan sebagai Hari Kebudayaan.

Selama berabad-abad, ulos hidup dalam adat Batak. Dalam tradisi mangulosi, kain ini dikalungkan ke pundak penerima sebagai doa, restu, dan pengikat kasih sayang. Ia hadir dalam pernikahan, kelahiran, hingga upacara kematian. Ulos Ragi Hotang, misalnya, diberikan kepada pengantin baru sebagai simbol kehangatan dan kebersamaan. Ulos Mangiring melambangkan kesuburan dan harapan akan keturunan yang beriringan. Setiap warna, motif, dan cara pakainya membawa makna tersendiri.

Ulos juga bukan hanya milik suku Batak Toba. Kelompok suku Batak terdiri atas Batak Toba, Karo, Simalungun, Pakpak, Mandailing, dan Angkola, dan masing-masing punya tradisi tenunnya sendiri. Kain tradisional ini disebut ulos pada Batak Toba, uis pada Batak Karo, hiou pada Batak Simalungun, ulos pada Batak Mandailing, dan ulos atau abit godang pada Batak Angkola. Di Pakpak, kain tenunnya disebut oles. Ragamnya pun kaya, di Tanah Karo dikenal Uis Beka Buluh, Uis Gatip Jongkit, Uis Nipes Padang Rusak, dan Uis Arinteneng, sedangkan Angkola dan Mandailing mengenal Ulos Sadum, Sabe-sabe, dan Harungguan. Dari Batak Toba ada Ulos Ragidup, Sibolang, Bintang Maratur, dan Pinuncaan. Jenis ulos di 6 suku Batak ini jumlahnya mencapai puluhan, belum termasuk variasi motif di tiap daerah.

Kini ulos keluar dari ruang adat dan masuk ke dunia mode. Ia tampil sebagai blazer, gaun, outer, tas, hingga aksesori sehari-hari. Selain ulos tenun tangan yang proses pembuatannya sangat lama, pembuatan ulos kini juga dibedakan antara cara manual oleh partonun (penenun) dan cara mesin yang lebih cepat dan efisien. Pilihan bahan dasarnya pun luas, dari ulos bahan standar yang terjangkau hingga ulos halus premium. Harga ulos dari satu produsen lokal berkisar 500 ribu hingga 15 juta rupiah per helainya, tergantung motif dan bahan. Rentang ini menunjukkan ulos bisa dinikmati berbagai kalangan, dari pemakai harian sampai kolektor.

Para desainer ternama Indonesia juga ikut mendorongnya, Torang Sitorus, misalnya, lebih dari 20 tahun membawa ulos ke industri mode dan bekerja sama dengan desainer nasional lainnya seperti Ivan Gunawan, Adrian Gan, dan Edward Hutabarat. Ia juga menerbitkan buku Identity in a Piece of Cloth: The Batak Ulos pada 2022. Merdi Sihombing, desainer berdarah asli Batak, mengangkat ulos dengan pendekatan berkelanjutan dan ramah lingkungan. Ia menyebut bahwa bagi orang Batak, ulos adalah jiwa, dan tugasnya adalah membawa ulos ke arah yang lebih kosmopolitan.

Pengakuan internasional pun nyata, pada 11 Maret 2023, Merdi Sihombing menampilkan koleksi Ulos Sitolu Huta di Global Indigenous Runway, bagian dari Melbourne Fashion Festival di Australia. Pada 13 September 2023, koleksi bertajuk “Ulos” miliknya tampil di New York Fashion Week Spring Summer 2023/2024 di Spring Studios, New York. Koleksi Ulos Sitolu Huta juga dipamerkan di Indigenous Fashion Arts Festival 2024 di Toronto, Kanada, pada 2 Juni. Semua itu membuktikan ulos mampu berdialog dengan selera global tanpa kehilangan jati dirinya.

Namun kemajuan di panggung mode tidak boleh melupakan mereka yang ada di balik alat tenun. Ulos bisa di bandrol harga mahal karena proses pembuatan dan bahannya, terutama karena partonun yang langka dibandingkan permintaan. Penenun juga masih harus bersaing dengan ulos impor yang jauh lebih murah. Karena itu, Hari Ulos Nasional sebaiknya dimaknai sebagai ajakan konkret: membeli ulos asli dari partonun, menghargai kerja penenun, dan memakainya dengan bangga. Dengan begitu, ulos tetap hidup sebagai identitas yang menghangatkan tubuh dan hati, dari kampung penenun sampai panggung catwalk dunia.

Bagi Anda yang ingin ikut merawat ulos lewat pilihan gaya hidup, Marabit Indonesia hadir sebagai salah satu jenama lokal yang mengolah bahan ulos menjadi koleksi produk yang modern dan nyaman digunakan. Dengan mengubah kain adat menjadi produk yang relevan untuk keseharian, Marabit Indonesia membantu ulos tampil lebih dekat dengan generasi masa kini. Setiap produk yang dibeli turut menjaga keberlangsungan tradisi tenun dan memberi ruang bagi para penenun untuk terus berkarya. Rayakan Hari Ulos Nasional dengan mengenakan karya anak negeri, dan temukan koleksi ulos Marabit Indonesia di kanal resmi mereka.